Blambangan Heritage Trail 2010, Jenggirat Tangio Indonesiaku!!!

11/05/2011

tentang Banyuwangiku

Jas Merah, jangan sampai melupakan sejarah. Kata-kata yang dipekikkan Bung Karno tersebut terasa membakar ketika saya membaca latar belakang diadakannya Blambangan Heritage Trail 2010, sebuah kegiatan napak tilas diselingi cerita di balik 5 petilasan kerajaan Blambangan yang menjadi cikal bakal berdirinya Banyuwangi oleh Bapak Sri Margana, seorang ahli sejarah dari Universitas Gadjah Mada yang disertasi doktoralnya di Universitas Leiden Belanda bertema sejarah Blambangan.

Tidak butuh waktu lama untuk saya memutusakan mengajukan diri menjadi bagian dari kegiatan yang diadakan pada tanggal 8 dan 9 Mei lalu. Hal tersebut dikarenakan rasa ‘cinta’ saya pada Banyuwangi yang terlalu sering saya umbar seakan menuntut bentuk konkritnya. Katakanlah saya terlalu berlebihan dengan alasan tersebut, tapi bagi saya, kegiatan menyusuri tempat-tempat bersejarah Kerajaan Blambangan adalah bentuk komitmen saya untuk mengenal Banyuwangi. Lebih dari itu, kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut sukses menjadi pupuk yang menyuburkan rasa ‘cinta’ saya pada Banyuwangi dan rasa nasionalisme saya sebagai bangsa Indonesia.

 

Ketika saya begitu takjub memandangi area persawahan di daerah Macan Putih karena ternyata masih ada 1, 2, 3, 4 dan begitu banyak Kiling, sebuah alat penunjuk arah mata angin berbentuk seperti cambuk berukuran raksasa yang mampu mengeluarkan bunyi serupa baling-baling pesawat ketika tertiup angin. Dalam masyarakat using, Kiling merupakan Sanepo, yaitu petuah yang tak tertutur tapi dilambangkan dimana setiap detail dari Kiling mempunyai makna tersirat. Singkat kata, kiling adalah sebuah produk dari budaya Banyuwangi dan saya sangat bersyukur keberadaannya masih tetap lestari. Ketika saya terheran mendengar cerita bahwa ternyata raja yang membawa Blambangan ada pada masa kejayaannya yaitu Tawang Alun adalah seorang raja yang mempunyai kharisma luar biasa sebagai seorang pria. Bagaimana tidak jika ada 270-an istri yang ikut Sati (membakar diri dalam upacara Ngaben suaminya dalam agama Hindu) dari 400 istri yang ia miliki. Situs Macan putih adalah petilasan yang menjadi saksi karena disanalah upacara Ngaben dari Raja Tawang Alun digelar. Ketika saya merasa begitu teduh berjalan di bawah rindangnya hutan Bayu dengan pepohonan menjulang tinggi di kanan dan kiri jalan hingga ranting-rantingnya seperti menyatu dan membentuk gua. Keteduhan yang ternyata menyimpan sebuah kisah mengerikan karena pohon-pohon tersebut dulunya oleh VOC dijadikan tempat untuk menggantungkan penggalan kepala para pemberontak pribumi. Pemberontakan pimpinan seorang pemuda bernama Rempeg Jagapati yang mengaku keturunan langsung dari Tawang Alun dan mentasbihkan dirinya menjadi raja Blambangan di Bayu pada usia 17 tahun itu mencapai puncaknya pada tanggal 18 Desember 1771. Peperangan yang terjadi di desa Karangharjo Songgon tersebut adalah peperangan habis-habisan rakyat Blambangan melawan VOC, sebuah peperangan paling sadis sepanjang sejarah penjajahan Belanda di Indonesia karena hanya menyisakan 2000 orang dari 8000 rakyat Blambangan saat itu. Pun alasan tanggal 18 Desember dijadikan Hari Jadi Banyuwangi adalah untuk mengabadikan Heroisme dan Patriotisme rakyat Blambangan dalam perang yang telah memakan ribuan korban.

Peristiwa itu juga yang membuat Rempeg Jagapati di ajukan oleh para sejarawan Banyuwangi menjadi Pahlawan Nasional karena perang yang dipimpinnya tak kalah hebat dengan Perang Diponegoro. Ketika Alas Purwo membawa saya larut dalam pesona alamnya yang luar biasa. Sedikit selingan tentang berbagai kisah mistis di dalamnya yang telah membumi kiranya membuat saya memafhumi bahwa Alas Purwo biarlah tetap menjadi Alas Purwo dengan sejuta misteri agar keberadaannya tetap lestari untuk menjaga keseimbangan alam. Ketika saya terengah-engah melakukan trekking untuk bisa menatap ombak yang begitu sombong. Menatap ombak yang juga ditatap oleh beberapa turis di sebelah saya. Yach, ombak yang mereka gilai, para surfer dari manca negara yang rela bersusah-susah datang kesana, G-Land Banyuwangi Indonesia! Sejarah berbicara tentang perjuangan, kepahlawanan, kejayaan sekaligus keruntuhannya. Kekinian menyajikan sebuah wacana bahwa bumi yang sedang saya pijak dan langit yang sedang saya junjung mempunyai potensi yang masih sangat mungkin untuk terus digali. Belajar sejarah dengan mendatangi tempat-tempatnya secara langsung diharapkan mampu membuat kita merefleksikannya pada kekinian atau gampangannya adalah menggunakan sejarah untuk menggali potensi kita saat ini. Zaman itu mereka bisa berjaya, dengan sumber daya yang ada sekarang bukan tidak mungkin kita juga mampu mencapainya.

Zaman itu mereka berjuang dalam sebuah peperangan, sekarang kita hanya harus bangkit dan mengoptimalkan apa yang kita miliki. Tidak melulu harus menjadi orang besar dan melakukan hal-hal besar, siapa saja dan sekecil apapun perbaikan yang bisa kita lakukan adalah bentuk kebangkitan dan pengoptimalan diri itu. Demikian sebuah simpulan yang dapat saya ambil dalam kegiatan Blambangan Heritage Trail 2010. Dan memang seharusnya kita tak meninggalkan semangat masa silam, tapi abadikan semangat tersebut dalam jiwa kita untuk menjadikan bumi yang kita pijak saat ini menjadi lebih baik lagi. Banyuwangiku, Indonesiaku!

NB: Terimakasih banyak untuk kenangan tak terlupakan di Banyuwangiku. Teman-teman dari Paramadiana: Roby, Maio dan si dosen cantik mbak Icha. Teman-teman dari UGM: Inda, Elok, Mas Tomy dan Bapak sri Margana. Teman-teman saya dari Jember mico, Nuran dan Maya (dari Jakarta juga si sebenarnya). Teman-teman dari Untag yang tak bisa tersebutkan satu persatu, tapi terutama untuk leadernya, Ika, you rock buk!!! Juga untuk Pak Aekano, Pak Hasan, Kang Pur, Mbak Surti dari Pecari, duo Jebeng Thulik, dan Mas Donna. Semoga kita bisa berkumpul kembali tahun depan….

 

SUPERGEAR is coming soon..!! akan ada banyak sekali adventure gear yang bisa didapat dengan menukarkan poin..

Komentari artikel ini dan kumpulkan poin di account kamu (max 10 poin per hari untuk point komentar). Selebihnya komentar mu tidak mendapatkan poin. Poin yang terkumpul dapat ditukarkan dengan berbagai perlengka[an adventure menarik di SUPERGEAR

Belum terdaftar sebagai member www.djarumsuper.com? segeralah mendaftar di sini dan segera kumpulkan poin!!

Share

Saya sudah berumur 18 tahun