Kampung Urug, Adat Yang Tetap Terjaga

19/04/2011
Oleh : SUTIKNYO

Kampung Urug, sebuah kampung yang terletak di wilayah desa Kiarapandak kecamatan Sukajaya kabupaten Bogor ini menyimpan sejuta pesona, adat istiadat nya masih terus di jaga kemurnian-nya, di pimpin oleh seorang tetua Adat, gelaran acara Seren Taun menjadi agenda menarik bagi pengunjung untuk menyelami lebih dalam luhurnya adat-istiadat di kampung ini.

Pagi itu beberapa titik air masih menempel di ujung daun-daun kelapa sawit yang masih baru berusaha tumbuh, melihat fisik dari tumbuhan ini pasti baru beberapa bulan di tanam, sementara itu di ujung mata memandang adalah deretan pegunungan yang tersamar oleh kabut tipis, mendung juga menggelayut di atas pegunungan itu.

Hamparan permadani hijau alam ini membentang indah di depan indera penglihatan saya ketika memasuki wilayah desa Kiarapandak kecamatan Sukajaya kabupaten Bogor ini. Dari kejauhan terlihat seorang bapak petani berjalan mendekati saya sambil memikul rumput di pundaknya, dengan ramahnya dia tersenyum kepada saya, maka saya pun memberanikan diri untuk sedikit membuka obrolan singkat dengan beliau.

Menurut keterangan bapak petani ini kampung urug yang menjadi tujuan saya kali ini sudah dekat, dan benar adanya sudah dekat tapi medan yang harus saya tempuh adalah jalanan turun naik dengan badan jalan yang sangat sempit. Dan setelah Tanya kesana-kemari akhirnya saya menemukan dimana letak gedung Ageung/rumah besar tempat dimana ki Kolot Ukat seorang tetua adat kampung Urug ini tinggal.

Setelah bersilahturahmi sebentar dan menjelaskan maksud kedatangan saya kesini akhirnya saya di persilahkan untuk menikmati keindahan kampung adat ini, namun ketika hendak melangkahkan kaki dari gedung Ageung, hujan rintik-rintik sudah mulai membasahi bumi, terlihat para pekerja yang sedang merenovasi gedung ageung ini pun berteduh dari guyuran hujan, menurut keterangan abah Ukat, pemerintah sedang berusaha melindungi situs-situs bersejarah di wilayah ini, dan kampong urug salah satunya mendapatkan dana untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang sudah diperlukan, namun tidak merubah nilai sejarah yang terdapat didalamnya.

Terlihat sebuah rumah panggung kecil di depan gedung Ageung ini, namun pintu rumah itu tertutup rapat seolah ada yang harus di lindungi di dalamnya, namun keingintahuan saya sungguh besar untuk menguak apa sebenarnya isi dari ruangan itu, sementara hujan sudah agak mereda saya pun bergegas untuk melihat sudut-sudut kampung adat ini, menurut keterangan yang saya dapatkan, nama kampung Urug berasal dari kata “GURU” yakni dengan mengubah cara membaca yang biasanya dari kiri sekarang dibaca dari sebelah kanan. Sedangkan kata “guru” sendiri mempunya arti atau akronim digugu lan ditiru, artinya seseorang yang segala petuah maupun perbuatan nya layak di percaya dan dijadikan panutan bagi segenap lapisan masyarakat.

 

.

Terlihat bagunan kecil dengan pagar tertutup rapat di depan gedung Ageung ini, mungkin jaraknya hanya beberapa meter dari halaman kecil gedung Ageung, bergegas saya menghampiri pintu pagar yang tertutup rapat itu, kembali lagi saya di hadapkan pada seribu pertanyaan dalam hati, apa kiranya banguna kecil ini sehingga di lindungi oleh pagar yang selalu terkunci rapat, di samping banguna kecil berpagar rapat itu terlihat deretan benda-benda semacam lumbung padi, dan benar adanya setelah bertanya kepada penduduk setempat benda itu bernama Leuit (tempat penyimpanan padi bagi masyarakat sunda ato lebih beken dengan nama lumbung padi). Deretan Leuit ini terlihat berjajar di bawah rumpun bambu kecil dan beberapa batang pohon besar, namun lagi-lagi saya harus segera berlari untuk berteduh karena hujan yang mengguyur kembali deras.

Sebuah warung kecil yang sangat sederhana sekali menjadi tempat saya berteduh, seorang ibu tua yang menjaga warung itu sedikit bercerita tentang kampung Urug dan saya sangat antusias mendengarkan cerita beliau walaupun kondisi badan masih ada sisa-sisa demam tadi malam. Hujan masih deras namun jam di tangan saya sudah menunjukkan waktu tengah hari dan perut juga sudah tidak mau kompromi, seolah berteriak-teriak minta segera di isi untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan selanjutnya, dan fikiran saya langsung melayang pada sebuah iklan salah satu produk mi “hujan enaknya mi rebus” (sedikit di plesetkan karena tidak ada sponsor he he).

Setelah bertanya ke pada ibu penjaga warung , ternyata tidak tersedia mi rebus di warung ini, namun sepertinya beliau merasa kasihan kepada saya yang sudah menghabiskan 7 bungkus kecil kerupuk baksonya, akhirnya beliau mau mengusahakan supaya saya bisa menikmati mi rebus, dan di tengah hujan dengan berpayung beliau membelikan mi rebus mentah dan dimasak di dapurnya yang masih menggunakan kayu bakar, dan Violaaaa semangkuk mi rebus panas lengkap dengan telor sudah tersaji di hadapan saya, hanya dalam hitungan detik sudah ludes masuk ke dalam gudang peyimpanan saya

Hujan kembali mereda dan saya kembali menelusuri jalan-jalan setapak yang ada di kampung ini, namun sayangnya sudah sedikit sekali rumah-rumah adat disini, mungkin seiring dengan perkembangan zaman juga, namun penduduknya masih memegang teguh adat istiadat yang di wariskan dari nenek moyang, listrik juga sudah masuk ke desa ini sejak 1996 lalu, sehingga sudah ada beberapa warga kampung ini yang merantau ke bogor maupun ke Jakarta. Setelah puas berkeliling saya pun kembali ke gedung Ageung untuk mendengarkan cerita dari abah Kolot Ukat, karena tadi ketika saya hendak berkeliling kampung beliau berjanji akan sedikit bercerita kepada saya.

Saya hanya menyimak cerita demi cerita yang keluar dari mulut si abah, namun terkadang menghentikan cerita beliau dengan pertanyaan-pertanyaan saya, dan masih menurut beliau kampung ini adalah cikal bakal kerajaan Padjajaran, prabu Siliwangi pernah menampak kan diri di desa ini namun tepatnya dimana abah tidak bersedia memberi tahu saya. Adat istiadat masih di pegang teguh di kampung ini, dan untuk menetapkan siapa yang akan menggantikan abah di kemudian hari melalui proses yang sangat panjang, tidak serta merta anak lelaki abah yang akan menggantikan beliau mengurus kampung urug ini.

Di sela-sela ceritanya beliau sangat menikmati sekali menghisap rokok dalam-dalam. Dan dari cerita beliau bangunan kecil itu adalah gedung Alit (kecil) yaitu tempat yang khusus di gunakan abah untuk menyendiri seperti bersemedi. Yah ki Kolot Ukat, seorang guru bagi penduduk kampung urug dengan segala kesederhanaan dan kharismanya, setelah berpamitan kepada beliau saya pun harus segera meninggalkan kampung yang sarat dengan sejarah ini, dengan senyum nya si abah juga menyampaikan undangan kepada saya untuk hadir di acara serentaun yang akan di adakan untuk merayakan pesta panen bagi penduduk kampung Urug, dan dalam hati saya pun tersenyum atas semua yang saya dapatkan hari ini.

SUPERGEAR is coming soon..!! akan ada banyak sekali adventure gear yang bisa didapat dengan menukarkan poin..

Komentari artikel ini dan kumpulkan poin di account kamu (max 10 poin per hari untuk point komentar). Selebihnya komentar mu tidak mendapatkan poin. Poin yang terkumpul dapat ditukarkan dengan berbagai perlengka[an adventure menarik di SUPERGEAR

Belum terdaftar sebagai member www.djarumsuper.com? segeralah mendaftar di sini dan segera kumpulkan poin!!

Share

Saya sudah berumur 18 tahun