Sejuta Pesona di Danau Sentarum, Daerah Hulu Kalimantan Barat

25/06/2011

Danau Sentarum memiliki sejuta pesona, sekaligus danau tempat habitat ikan air tawar terlengkap di dunia. Pesona yang dapat membuat kita berdecak kagum dan bersyukur kepada Tuhan, akan kekayaan pesona alami yang tersimpan di tenangnya air seluas 132.000 hektare.

 

menyusuri danau sentarum dengan perahu

Desember 2008.

Tugas untuk merekam jejak kegiatan tim peneliti Center for International Forestry Research (Cifor), mengantarkan saya menyusuri Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas HUlu, Kalimantan Barat. Menuju Danau yang menjadi taman nasional itu, tidaklah mudah. Saya bersama seorang jurnalis The Jakarta Post, dan Rozi jurnalis Pontianak Post, harus menempuh perjalanan darat menggunakan angkutan umum dari Kota Pontianak menuju Sintang, Rabu (10/12). 

Jarak yang harus kami lalui sekitar 430 kilometer, dengan waktu tempuh 9 jam.

Hari masih pagi saat kami tiba di Sintang, sekitar pukul 06.00 WIB, Kamis (11/12). Humas tim Cifor, Mbak Widya, mengarahkan kami untuk beristirahat di sebuah warung tepi Sungai Kota Sintang. Sekadar melepas penat sejenak, setelah melewati jalan darat yang penuh lubang. Menurut Mbak Widya, perjalanan kami akan dilanjutkan menggunakan Kapal Bandong menuju Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu. 

Kapal Bandong adalah sarana transportasi masyarakat di daerah Danau menuju  Kota  terdekat. Kapal ini bisa dikatakan sebagai kapal rumah. Karena, terbagi atas tiga bagian utama. Yakni, bagian depan sebagai haluan kapal dengan ruangan kecil yang berfungsi sebagai ruang kemudi. Bagian tengah merupakan tempat untuk istirahat, yang diiringi ‘musik’ raungan mesin kapal yang memekakkan telinga. Bagian belakang difungsikan untuk dapur. Buritan kapal dibuat kakus sederhana dengan penutup terpal sebagai dindingnya, untuk mandi dan buang air. 

Menuju Selimbau menggunakan Kapal Bandong dari Kota Sintang menghabiskan waktu satu hari satu malam. Pemandangan yang bisa dilihat dari Kapal Bandong selama menyusuri sungai  Kapuas  hanyalah rerimbunan hutan, aneka satwa, dan air. Tujuan ke Selimbau adalah untuk melihat tanaman anggrek alami yang dikembangkan oleh masyarakat setempat. Jumat (12/12) sore, akhirnya petualangan menggunakan Kapal Bandong, berakhir. Kami tiba di tempat yang dituju. Air mendominasi daratan di desa Selimbau. Masyarakat di perkampungan itu bermatapencaharian utama sebagai nelayan. Karena hari sudah sore, kami tidak bisa langsung melihat anggrek alami. >

Sabtu (13/12) pagi. Bila Italia memiliki wisata air di kota Venezia yang bisa disusuri menggunakan gandola, Kapuas Hulu memiliki kawasan Danau Sentarum yang menyimpan keelokan Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata) yang tumbuh alami di hutan sepanjang aliran Sungai Kapuas, dan bisa dinikmati menggunakan long boat (sampan motor). Kami diajak berkeliling untuk melihat hamparan anggrek hitam yang dibiarkan tumbuh alami. Sebanyak 135 jenis anggrek alam di danau Sentarum yang telah teridentifikasi oleh tim peneliti Cifor. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan taman nasional di Kanada yang hanya memiliki 28 jenis anggrek. Menakjubkan, bukan! 

Menikmati anggrek hitam alami menggunakan sampan

Melihat tanaman anggrek yang hidup di pohon di pinggir sungai menggunakan long boat, memberikan kenikmatan tersendiri. Kicau burung Murai Batu, kelebatan burung Bangau dan Elang, menambah penyusuran sungai menjadi tidak membosankan. Apalagi, rindangnya hutan memberikan kesan teduh kepada pengunjung. Berdasarkan informasi dari penduduk, mereka akan meletakkan kembali ke pohon bila menemukan tanaman anggrek yang jatuh ke air. Hal itu dilakukan untuk menjaga kelestarian tanaman anggrek di hutan mereka. Selain anggrek hitam, desa Selimbau juga memiliki berjenis tanaman Kantung Semar (Nepenthes sp). Alternatif lain bila pengunjung tidak menyukai tanaman anggrek adalah memancing. Jenis ikan yang ada di sungai desa itu antara lain ikan Baung, Lais, Toman, dan Patik. 

Puas menikmati pesona anggrek hitam yang tumbuh alami, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Semitau. Kami kembali menggunakan Kapal Bandong dari Selimbau menuju daratan Semitau. Kali ini, kami diajak untuk melihat satu jenis ikan hias yang banyak diburu para kolektor, yakni ikan Arwana (Scleropages formosus). Selain karena keindahan warnanya, ikan Arwana juga mempunyai keunikan, menetaskan telur di mulut pejantan. 

Ikan Arwana yang dikembangbiakan di akuariumIkan Arwana merupakan ikan endemik Danau Sentarum. Hebatnya lagi, untuk harga seekor ikan berukuran beberapa sentimeter, dapat mencapai Rp 2,7 juta. Pendapatan yang bisa diperoleh peternak ikan Arwana untuk sekali panen mencapai miliaran rupiah. Peternak ikan biasanya bisa memanen 100 ekor dalam kurun waktu satu hingga tiga bulan. 

Berlari dengan waktu membuat kunjungan ke peternakan aquarium ikan Arwana di Semitau dihentikan pada Sabtu siang. Kami harus naik speed boat menuju Desa Lanjak, untuk melihat penjualan madu hutan di pasar tradisional. Menyusuri danau yang luas menggunakan speed boat merupakan pengalaman pertama bagi saya. Sedikit bergidik ngeri, memang. Mengingat, pemandangan danau itu semuanya sama. Hanya pucuk-pucuk daun pohon yang terendam air.

Tiga puluh menit perjalanan, semua baik-baik saja. Namun, suasana menjadi tegang karena tali kemudi speed boat putus. Kami panik mengambang di air. Driver speed boat mencoba menenangkan dan memberikan instruksi untuk menepi, mencapai pucuk daun yang ada di sisi kiri. Serempak, kami mengkayuh tangan di air danau, memutar arah kemudi. Hal itu dilakukan agar kami dapat sekaligus berteduh dari terik matahari yang bersinar garang. Beruntung, tak berapa lama ada seorang pencari ikan hias yang menggunakan speed boat. Kami yang berada di dalam speed boat, ditarik ke perkampungan terdekat untuk memperbaiki tali kemudi. 

Hari menjelang sore. Tali kemudi masih belum bisa diperbaiki. Menurut driver speed boat, talinya harus diganti dengan yang baru dan harus dicari di perkampungan sebelumnya yang berjarak sekitar satu jam. Ia juga menyarankan untuk bermalam. Mengingat, kondisi tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Menurut driver, bila dipaksakan melanjutkan perjalanan menggunakan speed boat di malam hari, sangat berisiko diterjang badai dan arah jalan tidak jelas (pengemudi mengandalkan plang penunjuk arah yang tinggi, yang biasanya diletakkan di pertemuan air danau dari dua arah).

Minggu (14/12) pagi. Driver speed boat menyambut kami dengan senyuman karena tali kemudi sudah diganti. Perjalanan kami lanjutkan kembali. Menurut Mbak Widya, kami akan berhenti di Pusat Konservasi Sumber Daya Alam yang terletak di Bukit Tekenang, yang selanjutnya menggunakan perahu 40 pk (horse power) menuju Desa Lanjak.

Pusat Konservasi Sumber Daya Alam di Bukit Tekenang Danau Sentarum 

Aneka satwa bisa ditemukan di Bukit Tekenang. Seperti monyet, burung enggang, dan sebagainya. Hewan-hewan tersebut dibiarkan hidup liar di hutan. Suara dan gerakan berpindah di pohon oleh para hewan, menjadi keriuhan yang menyelimuti tempat tenang itu. Perahu 40 pk membawa kami meninggalkan pusat konservasi. Empat jam perjalanan mengarungi danau, menunggu. Menuju pasar tradisional yang ada di Desa Lanjak. 

Setelah selama tiga hari memandang hamparan air sepanjang danau, jejeran bukit yang membatasi wilayah Malaysia Timur dan Desa Lanjak di Kapuas Hulu memberi pemandangan berbeda. Guratan senyum terpancar di muka. Akhirnya kami menjejakkan kaki lagi di daratan yang sesungguhnya. Kali ini kami melihat madu hutan yang dijual oleh penduduk sekitar kawasan Danau Sentarum. Manisnya madu sangat disukai orang banyak. Madu juga memiliki khasiat untuk meningkatkan stamina tubuh. Daerah paling banyak menyumbangkan madu sebagai hasil hutan alami di kawasan Danau Sentarum tersebar di tiga Kecamatan. Yakni, Selimbau, Batang Lupar, dan Badau. Bahkan, madu yang dihasilkan sudah dikemas dengan rapi dan mendapatkan sertifikasi. Harga jual mencapai Rp 45 ribu per kilogram. Selain madu yang dipanen, sarangnya pun dapat dijual dan menambah penghasilan masyarakat. 

Sarang lebah yang dijual seorang ibu penduduk sekitar Danau Sentarum di pasar tradisional Desa Lanjak

Seorang ibu yang berasal dari Desa Semangit menjual Labang Muanyi (sarang lebah) di pasar tradisional Lanjak, yang bisa dijadikan lauk untuk makan. Ia menjual sarang lebah tersebut Rp 15 ribu per kilogramnya. Penjelajahan mengarungi Danau Sentarum pun berakhir. Kami pulang kembali ke  Pontianak 


SUPERGEAR is coming soon..!! akan ada banyak sekali adventure gear yang bisa didapat dengan menukarkan poin..

Komentari artikel ini dan kumpulkan poin di account kamu (max 10 poin per hari untuk point komentar). Selebihnya komentar mu tidak mendapatkan poin. Poin yang terkumpul dapat ditukarkan dengan berbagai perlengka[an adventure menarik di SUPERGEAR

Belum terdaftar sebagai member www.djarumsuper.com? segeralah mendaftar di sini dan segera kumpulkan poin!!

Share

Saya sudah berumur 18 tahun