Timur Tengah Telah Ditaklukkan!

13/07/2010

 

Tim Anhang asal Bandung, Jawa Barat akhirnya membuktikan diri sebagai kumpulan petualang paling tangguh di Djarum Super Adventurace 2, Desert Challenge.

Tim yang beranggotakan Yedi Irwandi, Irvan Firmasyah, dan Ruly Sutiwan menjadi yang terbaik di antara lima tim dalam melalui berbagai tantangan super keras selama 13 hari di tiga negara Timur Tengah, yakni Uni Emirat Arab, Jordania, dan Oman.

Meski demikian, ungkapan salut patut diberikan tim lainnya, East, Macan Gunung, Iron Man, dan Progo 1 yang hingga hari terakhir petualangan bertitel The Extreme Journey itu tak kenal lelah memeras keringat.  Tim asal Bandung memang menguasai petualangan kali ini setelah East menjadi runner up dan Progo1 menempati posisi ketiga.

Sukses Anhang menjadi juara sekaligus merebut hadiah pertama Rp 250 juta tak lepas dari kerja keras mempertahankan performa pada tiga tahapan terakhir Djarum Super Adventurace 2 Desert Challenge yang benar-benar kian menguji psikis dan juga fisik 15 petualang yang terlibat.

Konsistensi mereka yang memimpin tiga etape awal di Uni Emirat Arab dan Jordania, mampu dipertahankan pada tiga etape selanjutnya di Oman. Padahal, Anhang menghadapi banyak halangan yang tak hanya semakin berat, karena kondisi fisik kian terkuras, tapi juga semakin memainkan emosi.

Etape keempat yang berjalan di Jordania, contohnya. Di lomba off road yang berlangsung di Dana Village, dekat Wadi Araba, pada 19 Juni, kesulitan tidak pernah lepas dari Anhang. Tim yang dipimpin petualang paling senior, Yedi harus dua kali terperosok pasir gurun yang ganas sehingga bolak balik dibantu tim rescue.

Dua kali kesempatan mengganti mobil four wheel drive tidak mampu dimanfaatkan Anhang sehingga karena sudah terlalu malam dan bakal merepotkan panitia, mereka terpaksa dievakuasi ke desa terdekat, Finan, untuk kemudian melanjutkan lomba keesokan hari. Kondisi serupa juga dialami Progo 1 yang beranggotakan Herry Arfiyanto, Agung Purnomo, dan Eko LIsyanto. Mereka terjebak di way point 9.

"Kami tidak mau beresiko dengan tetap melepas mereka off road di malam hari. Biar tiga tim dahulu yang jalan, sementara dua tim lainnya kita tahan hingga besok. Apalagi, off road ini harus melewati 100 check point.  Percuma jika harus memaksakan start," jelas Abdul Malik, penanggung jawab off road.

Praktis di off road yang finish di Beir Al Makhtour ini, tim Anhang baru bisa berlomba setelah mobil pertama tiba di finish. Lomba ini dimenangkan tim East yang beranggotakan Ari Aditya, Arief Lalagunaya Halim, dan Tomy Husin Mubarok. Mereka menyentuh garis akhir pada 20 Juni, dan secara berturut-turut disusul Macan Gunung, Iron Men, dan Progo 1. 

Usai lomba off road,  semua tim, minus Anhang menuju Dead Sea dan baru tiba di laut yang berbatasan dengan  Israel itu pada malam hari, pukul 23.00,

“Kami tidak mengalami halangan berarti karena kami mematuhi petunjuk panitia dengan tidak ngebut di padang pasir, hanya 40 km per jam.

Selain itu, jika ada check point di atas bukit pasir, kami  tidak memaksa harus mencapainya pada kesempatan pertama.  Akan makin sulit jika kita terus ngotot,” ungkap Ari, ketua tim East yang selalu tampil paling bersemangat. 

Lomba terakhir etape empat  di Jordania yakni renang di Dead Sea, 21 Juni, berlangsung menarik.

Meski  laut itu mampu mengambangkan semua peserta, termasuk Anhang yang masuk finish menjelang dini hari, tapi kadar garam yang sangat tinggi menjadi tantangan lain yang harus dilalui sebab air laut itu sangat sakit jika terkena mata, dan sangat memualkan jika tertelan. Arus Laut Mati yang deras juga menyulitkan panitia.

Lomba yang seharusnya bersifat tantangan yakni mengambil bendera di setiap bouy, diubah menjadi lomba kecepatan  renang berjarak 500 meter. “Ini benar-benar pengalaman yang luar biasa. Pertama kali berenang di Laut Mati, langsung berlomba. Saya mencoba menikmatinya tantangan ini karena mengasyikan,” kata Sofyan Arief Reza dari tim Macam Gunung.

Petualangan di Jordania berakhir  di Dead Sea. Semua tim kembali ke Amman, dan mendapat jamuan hangat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jordania.  Tak hanya Duta Besar, Zainulbahar Noor  berserta istri yang menyambut para petualang Djarum Super Adventurace 2.  Hampir seluruh staf penting kedutaan hadir pada acara makan malam khas Indonesia yang dirindukan seluruh petualang.

Sebelum tiba di kedutaan, terjadi tabrakan beruntun yang melibatkan empat mobil  peserta. Kerusakan parah dialami mobil yang dikendarai tim Macan Gunung karena  terjepit di antara mobil Iron Men dan Hummer yang ditumpangi host acara Djarum Adventurace 2, Fathir Muchtar.

Pembuktian di Oman

Pada hari ke-10 Djarum Super Adventurace 2 Desert Challenge, para petualang tangguh Indonesia menginjak negara baru, Oman, pada 22 Juni. Setibanya di Muscat International Airport, seluruh tim langsung disambut udara yang benar-benar berbeda. Meski masih pagi, pukul 06.30, tapi udara kota Muscat benar-benar lembab. Suhu sekitar 35 derajat celcius dan kelembaban yang mencapai diatas 80 persen, membuat  keringat mengucur deras. Apalagi, pagi itu, seluruh petualang langsung dibawa ke Qantab Beach, sekitar 25 km dari Muscat.

Lomba kayak sejauh 500 meter yang dilanjutkan dengan renang  100 meter dan diteruskan traversing pada tebing karang di lepas pantai Qantab benar-benar menyiksa  seluruh petualang. 

Tantangan dan hambatan yang semakiin menjadi, ditambah udara panas membuat tekanan kian besar serta kesabaran kian menipis.

Tak heran, konflik-konflik kecil sempat mengganggu solidaritas tim.  Hal ini sangat ketara terjadi di tim Iron Men asal Jakarta

“Inilah dinamika yang sebenarnya diprediksikan akan terjadi.  Tekanan lomba, rasa lelah, dan stress jadi persoalan internal yang harus mereka hadapi selain tantangan alam yang harus ditaklukkan.

Ini ujian sesungguhnya , apakah tim bisa menjaga kekompakan atau tidak,” ujar Ponco DH Hediarto, staf Caldera, event organizer petualangan ini.

Negara Oman tidak hanya identik dengan panas.

Kontur pegunungan di Jabal Al Akhdar, kota antara NIzwa dan Izki yang berjarak 140 km dari Muscat jadi tantangan pada hari kesebelas, 23 Juni. Di gunung dengan ketinggian 2.090 meter itu, 15 petualang menjalani tantangan trekking dan sepeda.

 

 

Alam berbatuan dan jalanan menurun tajam sempat menyulitkan petualang tangguh.Bahkan, ada beberapa  peserta yang harus menubrukkan sepedanya ke batu besar demi menghindari kecelakaan terjun ke jurang terjal akibat kecepatan tinggi.

Bercengkrama dengan udara dingin praktis hanya dinikmati sehari oleh para petualang Djarum Super Adventurace 2 Desert Challenge.

Petualangan ekstrim kembali jadi menu  utama pada 24 Juni. Lomba Canyoning, yakni adu cepat melintasi canyon di Wadi Bani Khalid di wilayah Sur, Oman jadi ajang terberat sekaligus menyenangkan. Jalur canyon berjarak 20 km dengan bebatuan besar dan kolam-kolam berair jernih jadi tantangan sekaligus pelepas penat karena para petualang bisa berenang saat melintasi  celah diantara tebing-tebing setinggi  70 meter.

“Benar-benar jalur yang  menantang sekaligus mengasyikkan. Kami langsung terjun dan berenang ketika melintasi canyon yang tidak ada jalan daratnya.  Lumayan buat menyegarkan badan yang kelelahan,” ungkap Irvan Firmasyah, anggota tim Anhang.

Tak heran, jalur yang diprediksikan  harus ditempuh dalam waktu 2,5 jam, oleh seluruh petualang mampu ditembus dalam 1,5 jam.  Tim Anhang yang dibeberapa lomba sebelumnya tampak keteteran kembali menguasai lomba ini setelah mengejar tim yang berjarak 20 menit didepan mereka. Tantangan canyoning ini menjadi kunci Anhang  memimpin kembali persaingan.

Dan ketangguhan Anhang semakin tak tertahankan ketika di lomba terakhir, sand boarding, yang berlangsung di desa Al Raha, Sur, pada 25 Juni, mereka kembali menjadi pemenang.

Dalam lomba adu kecepatan secara estafet menaiki bukit pasir setinggi 100 meter dan meluncur dengan papan luncur, anak-anak Bandung itu tak mampu disaingi tim lainnya. Bonus pengurangan waktu 60 menit makin mengukuhkan keunggulan Anhang.

Meski di tim ini, jalur komando sangat jelas sekali, yakni Yadi menjadi pimpinan, Irvan sebagai penggerak utama karena memiliki skill individu prima, terutama dalam bersepeda, serta Ruly menjadi pekerja dengan determinasi tinggi, namun hal itulah yang membuat mereka lebih unggul ketimbang tim lainnnya yang lebih egaliter. Karena pada tim-tim yang tanpa komando itulah justru lebih sering muncul friksi akibat ego-ego yang tak mau saling mengalah.

“Sudah pasti kami sangat senang sekali. Perjuangan sejak orienteering di Bandung, lalu Eco Challenge, serta yang paling berat di Timur Tengah ini mampu dibayar dengan kemenangan. Saya berterima kasih kepada Irvan dan Ruly yang, meskipun masih muda, namun  semangatnya untuk menang membuat tim Anhang bisa jadi juara di Djarum Super Adventurace 2 ini,” ungkap Yedi yang punya handicap selalu mengucurkan darah dari  hidung jika mengalami kelelahan tinggi.

Tantangan Djarum Super Adventurace 2 di Timur Tengah telah ditaklukkan. Para petualang tangguh Indonesia sudah membuktikan bahwa medan gurun pasir, tebing karang panas, dan sengatan terik matahari  tak mampu jadi penghalang. Meskipun darah, keringat, rasa lelah, dan emosi jadi taruhannya. Selamat. Para petualang Indonesia , Anda semua memang hebat!

SUPERGEAR is coming soon..!! akan ada banyak sekali adventure gear yang bisa didapat dengan menukarkan poin..

Komentari artikel ini dan kumpulkan poin di account kamu (max 10 poin per hari untuk point komentar). Selebihnya komentar mu tidak mendapatkan poin. Poin yang terkumpul dapat ditukarkan dengan berbagai perlengka[an adventure menarik di SUPERGEAR

Belum terdaftar sebagai member www.djarumsuper.com? segeralah mendaftar di sini dan segera kumpulkan poin!!