Mengenal Lebih Dalam Theater Gandrik
Sejak terbentuknya 12 September 1983 hingga sekarang, Teater Gandrik bisa dibilang telah memiliki sejarah yang cukup panjang terutama bila dibandingkan dengan kebanyakan kelompok teater di Indonesia.
Teater Gandrik merupakan kelompok teater kontemporer Indonesia yang mampu mengolah bentuk spirit teater tradisional dengan gaya pemanggungan teater modern. Teater Gandrik adalah salah satu representasi teater modern yang berkembang di Indonesia.
Tahun 1980-1990, bisa dibilang menjadi tahun-tahun produktif Teater Gandrik. Ditandai dengan beberapa pementasan seperti Pasar Seret (1985), Pensiunan dan Sinden (1986), Dhemit, Isyu (1987), Orde Tabung,Juru Kunci (1988), Upeti, Juragan Abiyoso (1989) yang menjadi bagian penting dari dinamika sosial politik di Indonesia pada masa itu.
Ketika hegemoni kekuasaan Orde Baru begitu kuat, lakon-lakon Teater Gandrik mampu menjadi medium untuk melakukan kritik sosial sekaligus katarsis politik.
Lakon-lakon Teater Gandrik, merupakan “manifestasi teateral dan modern dari pola kritik varian rakyat kecil”, terutama rakyat kecil Jawa, dengan menggunakan “guyon parikeno”, menyindir secara halus yang tidak menimbulkan kemarahan yang berkuasa, dan bahkan seperti mengejek diri sendiri walau pun sesungguhnya yang dibidik adalah orang lain (yang tengah berkuasa).
Itulah cara yang ditempuh oleh Teater Gandrik untuk melakukan “kritik sosial” terhadap kamuflase kekuasaan Orde Baru, yang meskipun tampak santun dan halus, namun sesungguhnya sangat represif dan manipulatif.
Model kritik “guyon parikeno” dan semangat mengolah bentuk-bentuk teater tradisional ke dalam bentuk pementasan teater modern menjadi dua hal penting yang menjadi orientasi estetis lakon-lakon Teater Gandrik. Itulah sebabnya oleh banyak kritikus, Teater Gandrik kemudian disebut kelompok yang mengemban estetika sampakan.
Di mana panggung menjadi medan permainan oleh para aktor secara luwes, cair dan cenderung ”memain-mainkan karakter” dalam lakon-lakonnya, sehingga tak ada batasan yang jelas antara “aktor sebagai pemain” dengan watak yang dimainkannya. Inilah pola permainan gaya sampakan, yang oleh para personil Teater Gandrik disebut sebagai pengembangan dari pola permainan yang mereka temukan pada banyak teater tradisional di Indonesia.
Para personil Teater Gandrik memang tumbuh dalam lingkuangan tradisi (Jawa) yang kental. Lingkungan tradisi inilah yang kemudian banyak memberi warna pada pementasan-pementasan teater gandrik. Tradisi itu juga menjadi jalan bagi Teater Gandrik untuk mencari (dan menemukan) identitas estetiknya. Tetapi seperti dikatakan oleh Dr. Faruk HT, para personil Teater Gandrik juga mengalami modernisasi, yang mengakibatkan mereka memiliki keingingan untuk berbeda dengan generasi sebelumnya, di mana mereka kemudian memasuki “sebuah dunia baru yang bernama Indonesia”.
Teater modern adalah bentuk ekpresi baru yang mereka masuki dan dan mereka pilih sebagai meda kreatif bagi para personil. Maka Teater Gandrik pun merupakan komunitas kreatif yang mereka anggap bisa mampu merefleksikan gagasan dan kegelisahan mereka sebagai pekerja teater.
Sebagai kmunitas kreatif, Teater Gandrik sangat fleksibel dalam keanggotaan.
Dalam pengertian keanggotaan Teater Gandrik hanya diikat” oleh kebersamaan dalam melakukan pencarian idio-idiom teatrikal yang ingin mereka capai bersama.
Tidak mengherankan apabila banyak anggotanya kemudian keluar-masuk, berganti-ganti personil. Yang jelas, sampai sekarang beberapa personil Teater Gandrik harus berupaya membangun soliditas kelompok dengan terus melakukan proses bersama.
Hal itu bisa terlihat melalui tiga pementasan mereka, yakni Brigade Maling, Mas Tom dan Departemen Borok. Lakon Brigade Maling pada tahun 1999 malah sempat dipentaskan di Monash University Australia. Sebelumnya pada tahun 1990 dan 1992 Teater Gandrik juga mementaskan lakon Dhemit dan Orde Tabung di Singapura.
Salah satu upaya membangun soliditas grup dilakukan dengan menjadikan Teater Gandrik sebagai satu kelompok terbuka, di mana para anggota (yang baru maupun lama) terus melakukan proses dan pencarian bersama untuk menemukan idiom-idiom teater yang relevan dan orisinil bagi pementasan-pementasan berikutnya.
Lakon Mas Tom, yang merupakan adaptasi dari karya penulis Inggris Hendry Fielding (1707-1754) yang berjudul Tom Jones merupakan bukti betapa Teater Gandrik terus melakukan eksplorasi pencarian estetik dengan makin memperluas sumber-sumber kreatif yang bisa diolah. Begitu juga lakon terjemahan Keluarga Tot (2009) karya penulis Hungaria Istvar Orkeny yang berpijak pada mazhab realisme, memberi peluang sekaligus tantangan untuk bermain-main dalam pola teater sampakan. Bahkan di era reformasi Teater Gandrik tetap memiliki ketajaman sengatan kritiknya pada kekuasaaan dengan lakon Sidang Susila (2008). Perlu dicatat pula, bahwa sudah sejak lama Teater Gandrik dalam produksi-produksinya tidak membatasi diri dengan “media panggung” dalam pentas-pentasnya. Karena Teater Gandrik juga memproduksi beberapa lakon yang dipentaskan dan ditayangkan di TV, seperti Abiyasa, Tangis, Kera-kera, Buruk Muka Cermin Dijual, Flu, bahkan sempat memproduksi sinema elektronik (sinetron) Badut Pasti Berlalu yang bekerjasama dengan stasiun televisi Indosiar. Semua itu adalah salah satu upaya Teater Gandrik dalam memperluas dan mengembangkan dirinya.
Upaya lain yang dilakukan Teater Gandrik ialah membangun sistem internal yang lebih tertata dan terencana, dengan begitu secara manajemen Teater Gandrik bisa menjadi kelompok teater yang lebih bersifat modern. Itulah yang menjadi kesadaran dan paradigma berfikir Teater Gandrik, bahwa sebuah kelompok teater tak bisa lagi hanya berfungsi sebagai media pergaulan bersama, tetapi juga mesti mampu menjadi media yang menyediakan ruang untuk tumbuh dan berkembang bagi para personilnya.
Latar belakang seperti itulah yang kemudian membawa Teater Gandrik berada dalam lingkungan Yayasan Bagong Kussudiardja, yang kian memungkinkan bagi Teater Gandrik untuk terus mengembangkan diri.
SUPERGEAR is coming soon..!! akan ada banyak sekali adventure gear yang bisa didapat dengan menukarkan poin..
Komentari artikel ini dan kumpulkan poin di account kamu (max 10 poin per hari untuk point komentar). Selebihnya komentar mu tidak mendapatkan poin. Poin yang terkumpul dapat ditukarkan dengan berbagai perlengka[an adventure menarik di SUPERGEAR
Belum terdaftar sebagai member www.djarumsuper.com? segeralah mendaftar di sini dan segera kumpulkan poin!!



