Panti Idola: Lakon Korupsi Berlapis

21/05/2010

Oleh: Fisca Galih

Penonton mulai memadati teater salihara sejak pukul 7 malam.

Lakon-Pan-Dol yang pentaskan oleh teater gandrik Jogjakarta ini membawa angin segar di dunia teater.

Kritik terhadap korupsi yang dibawakan oleh Butet Kertarajasa dan kawan-kawan mampu membuat penonton tertawa dengan gaya guyonan yang menyentil nakal.

Dengan setting Kabupaten kota Bulus, Pan-Dol merupakan penggambaran tentang korupsi dan politik di dalam nya. Kota Bulus dalam keadaan kacau, kota ini penuh dengan tawuran yang seperti sudah menjadi bagian tingkah polah warganya. Para Anggota dewan yang terhormat pun mengeluarkan peraturan daerah untuk melegalkan aksi-aksi korupsi mereka.

 
Bupati Kota Bulus yang diperankan oleh Butet Kartaredjasa, membuka Panti Perawatan Mental Korban Korupsi. Panti perawatan inikemudia dikenal dengan sebutan Panti Idola atau Pan-Dol.

Melalui para korban korupsi penghuni Pan-Dol inilah mereka bergerak melawan korupsi. Mengaku telah berhasil mengurangi puluhan praktik korupsi pertahun, Pan-Dol pun mendapat penghargaan dari Presiden.

Karena prestasinya itu, dana pun semakin deras mengalir untuk panti rehabilitasi itu. Bukan hanya Bupati dan Direktur panti, kepala dinas pendidikan dan kepala dinas pariwisata pun turut memotong anggaran tahunan mereka untuk diserahkan ke panti idola.

Kemudian dua orang Panitia Pemberantasan Korupsi alias PPK yang diperankan oleh Susilo Nugroho dan Sepnu Heryanto merasakan hal yang tidak beres,yang ternyata aksi korupsi dilakukan juga oleh Bupati Kota Bulus dan Direktur panti. Mereka mengorupsi dana program pemberantasan korupsi.

Saat diselidiki, Bupati berusaha berkelit dengan melakukan segala cara, salah satunya adalah mengeluarkan peraturan daerah yang seperti melegalkan korupsi.

Peraturan itu menempatkan Direktur Pan-Dol menjadi Kepala Badan Pengawasan Daerah. Sedangkan Panitia Pemberantasan Korupsi menjadi unit urutan terbawah yang berada di bawah Bidang pengawasan Internal Badan Pengawasan Kabupaten. Maka, PPK tak pernah memperoleh surat disposisi untuk memeriksa Bupati Kota Bulus dari Kepala Badan Pengawasan Daerah yang juga Direktur Pan-Dol. Kota Bulus pun semakin memanas.

Begitulah kisah panti idola yang membawa kita ke suatu pertanyaan renungan, sebenarnya adakah cara untuk memberantas korupsi?

Adegan dalam lakon Pan-Dol dibawakan dengan iringan gamelan. Dengan demikian para pemain kerap melakukan improvisasi. Nalar penonton dan lakon pun seperti sudah saling terkait. Contohnya saat mereka melontarkan sindiran-sindiran, penonton bisa menebak ditujukan untuk siapa lalu tetawa dan bersorak riuh.

Pan-Dol masih akan dipentaskan hingga tanggal 22 Mei, dan setelah itu bergerak menuju Jogjakarta tanggal 4 dan 5 Juni.

SUPERGEAR is coming soon..!! akan ada banyak sekali adventure gear yang bisa didapat dengan menukarkan poin..

Komentari artikel ini dan kumpulkan poin di account kamu (max 10 poin per hari untuk point komentar). Selebihnya komentar mu tidak mendapatkan poin. Poin yang terkumpul dapat ditukarkan dengan berbagai perlengka[an adventure menarik di SUPERGEAR

Belum terdaftar sebagai member www.djarumsuper.com? segeralah mendaftar di sini dan segera kumpulkan poin!!